Jumat, 22 April 2016

Avoidant Personality Disorder



GANGGUAN KEPRIBADIAN
Avoidant Personality Disorder
Kesehatan Mental


Disusun Oleh :
2PA02
Ade Rezza Julianto (10514193)
Ira Burairah Semesta (1551446)
Syifa Ash Shughra Hanadi (1A514621)




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.2  Latar Belakang
            Kita semua memiliki kehidupan yang berbeda, gaya berperilaku yang berbeda dan cara berhubungan dengan orangpun berbeda. Beberapa diantara kita ada yang hidup dengan cara yang rajin ada juga dengan bermalas malasan, ada yang kuat ada juga yang lemah, ada yang cuek adapula yang sensitif. Dalam kehidupan sosial sebagian dari kita ada yang hanya pengikut, sebagiannya lagi yang memimpin.
            Beberapa dari kita terlihat kebal terhadap penolakan dari orang lain, sementara yang lain menghindari insiatif sosial karena takut dikecewakan. Saat pola perilaku menjadi begitu tidak fleksibel atau maladaptive sehingga dapat menyebabkan distress personal yang signifikan atau mengganggu fungsi social dan pekerjaan, maka pola perilaku tersebut dapat didiagnosis sebagai gangguan kepribadian. 
Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan. Kepribadian individu relatif stabil dan memungkinan orang lain untuk memprediksi pola pikir atau tindakan yang akan diambilnya. Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari.
Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai salah stu gangguan kepribadian yaitu avoidant personality disorder atau biasa dikenal dengan perilaku menghindar. Orang dengan gangguan kepribadian menghindar menunjukkan kepekaan yang ekstrim terhadap penolakan, yang dapat menyebabkan penarikan diri dari kehidupan sosial. Sebenarnya mereka tidak asosial karena menunjukkan keinginan yang kuat untuk berteman tetapi mereka malu, mereka memerlukan jaminan yang kuat dan penerimaan tanpa kritik yang tidak lazim.
1.2 Rumusan Masalah
                  1. Apa yang dimaksud dengan avoidant personality disorder?
2. Bagaimana gejala yang nampak pada seseorang yang mengalami avoidant
    personality disorder?
3. Berikan contoh dari kasus avoidant personality disorder dan cara penanganannya
             1.3     Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah avoidant personality disorder adalah untuk :
1.   Mengetahui apa itu avoidant personality disorder
2.   Mengetahui bagaimana gejala yang dialami seseorang yang mengidap avoidant
     personality disorder.
3.   Mengetahui cara penanganan avoidant personality disorder.
              1.4     Manfaat Penulisan
Makalah ini bermanfaat baik untuk kami karena dengan disusunnya makalah ini kami menjadi ingin tahu banyak hal mengenai ilmu-ilmu di dalam psikologi dan menggali informasi-informasi mengenai gangguan kepribadian
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan.
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.
Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Orang yang mengalami kepribadian biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan berbeda-beda berupa :
·      Ketergantungan yang berlebihan
·      Ketakutan yang berlebihan dan intimitas
·      Kesedihan yang mendalam
·      Tingkah laku yang eksploitatif
·       Kemarahan yang tidak dapat dikontrol
·       Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan
Gangguan kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan perilaku pada individu. Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang kepribadian dan berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa kanak-kanak.
Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri.
Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distres pada umumnya.
Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial.
Beberapa perilaku tersebut menganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau menlanjuti hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya.
Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar. Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan gangguan kepribadian.
Gangguan kepribadian menghindar (Avoidant Personality Disorder) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu mengalami hambatan-hambatan sosial, rasa tidak percaya diri, sensitif mengevaluasi diri dan menghindari interaksi sosial. Individu yang mengalami gangguan kepribadian ini memiliki perasaan cemas akibat kritik yang dikeluarkan oleh orang lain sehingga mereka akan bersikap menghindari interaksi dengan orang lain yang memunculkan adanya kemungkinan dikritik oleh orang lain. Selain itu , mereka juga sangat takut pada penolakan atau ketidaksutujuan dari orang lain sehingga mereka enggan untuk menjalin hubungan, kecuali jika mereka merasa yakin bahwa mereka akan disukai. Mereka bahkan dapat menghindari pekerjaan yang mengharuskan mereka banyak melakukan kontak interpersonal. Aktivitas atau pekerjaan yang mereka pilih adalah aktivitas atau pekerjaan yang terhindar dari interaksi sosial. Mereka yakin diri mereka tidak kompeten dan lebih rendah daripada orang lain. Mereka enggan untuk mengambil resiko atau mencoba berbagai aktivitas baru. Sindrom yang muncul meliputi ketakutan untuk tampak bodoh, dengan adanya keinginan yang kuat untuk penerimaan dan afeksi. Individu yang mengalami gangguan ini sangat ingin memasuki hubungan sosial atau aktivitas baru, tetapi mereka tidak menginginkan adanya resiko kecil yang ditimbulkan, kecuali mereka dijamin dari kekuatan penerimaan kritik.

2.2 Kelompok C
Berdasarkan DSM-IV gangguan kepribadian dibagi kedalam 3 kelompok besar yaitu:
1.      Kelompok A
Terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizopital. Individu pada ketiga gangguan ini menampilkan perilaku yang relatif sama yaitu eksentrik dan aneh
2.      Kelompok B
Terdiri dari gangguan kepribadian antisosial,boderline,histrionik, dan narsistik. Individu pada gangguan tersebut manampakkan perilaku yang dramatis atau berlebih-lebihan, emosional dan aneh.
3.      Kelompok C
Terdiri dari gangguan kepribadian avoidant, dependent, dan obsesif-kompulsif. Individu dengan gangguan kepribadian semacam ini tampak selalu cemas dan ketakutan.
Berdasarkan DSM-IV-TR, kriteria dari avoidant personality disorder adalah sebagai berikut:
·         Penghindaran terhadap kontak interpersonal karena takut kritik dan penolakan.
·         Ketidakmampuan untuk terlibat dengan orang lain kecuali ia merasa yakin akan
      disukai atau diterima.
·          Kekakuan dalam hubungan yang intim karena takut dipermalukan atau dicemooh.
·         Perhatian yang berlebihan terhadap kritik atau penolakan.
·         Perasaan tidak mampu.
·         Perasaan inferior.
·         Keengganan yang ekstrem untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.

2.3 Kasus
      Kasus ini didapatkan dari teman saya yang mengalami gangguan Avoidant Personality Disorder yaitu WL usia 20 tahun, relatif hidup terisolasi dan tidak punya sahabat. Sejak kecil, ia sangat pemalu dan telah menarik diri dari hubungan dekat dengan orang lain untuk menjaga dari perasaan terluka atau dikritik. Penyebab ia berprilaku avoidant karena di dalam diri WL ini mempunyai rasa hipersensitifitas yang tinggi yang membuat WL merasa menarik diri untuk bergabung dengan lingkungan sekitarnya seperti yang dijelaskan, mengapa WL menarik diri dari lingkungan karena WL merasa rendah diri yang berlebihan dan tidak mau menerima kritikan untuk menghindari perasaan terluka, oleh karena itu WL menarik diri dari lingkungannya karena takut akan kritik yang membuat ia merasa tidak diterima di lingkungannya.
            Dari contoh kasus di atas avoidant personality disorder dapat ditangani dengan cara :
1.         Psikoterapi. Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan. Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keterampilan sosial yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri pasien yang telah buruk.
2.       Terapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain. Melatih ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.
3.        Farmakoterapi. Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol  (tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan.
4.            Dukungan dari lingkungan dan keluarga juga penting seperti temen-teman disekililingnya seharusnya memahami dan mengamati apa yang terjadi pada WL dan mengapa WL terlihat menutup diri. Teman-temannya harus lebih sering mengajak WL berkomunikasi dan menghargai apa yang ia miliki agar WL merasa diterima dan tidak kesepian. Keluarga WL terutama orang tua jangan menuntut ini itu kepada WL dan mendukung apapun yang ia sukai dan peduli dengan yang ia rasakan. Jangan memarahinya saat ia tidak dapat melakukan yang orangtua inginkan, karena akan memperparah gangguan kepribadiannya. WL akan merasa tidak diterima dan selalu dikritik. Coba lebih memberinya kasih sayang dan perhatian dengan cara itu WL akan merasa didukung dan dihargai oleh orangtuanya. 
BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
     Gangguan kepribadian menghindar (Avoidant Personality Disorder) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu mengalami hambatan-hambatan sosial, rasa tidak percaya diri, sensitif mengevaluasi diri dan menghindari interaksi sosial. Individu yang mengalami gangguan kepribadian ini memiliki perasaan cemas akibat kritik yang dikeluarkan oleh orang lain sehingga mereka akan bersikap menghindari interaksi dengan orang lain yang memunculkan adanya kemungkinan dikritik oleh orang lain.
Berdasarkan DSM-IV gangguan kepribadian dibagi kedalam 3 kelompok besar dan avoidant personality disorder terdapat pada kelompok C. Individu dengan gangguan kepribadian semacam ini tampak selalu cemas dan ketakutan. Avoidant personality disorder dapat ditangani dengan cara psikoterapi, terapi kelompok, farmako terapi dan dukungan dari lingkungan dan keluarga.

3.2 Saran
     Kita harus peka terhadap lingkungan disekitar kita, memahami orang lain dan mendukung teman-teman kita. Apabila memiliki teman dengan ciri-ciri yang sama dengan avoidant personality disorder cobalah selalu mengajaknya berkomunikasi agar ia tidak menutup diri. Bertemanlah dengan mereka agar mereka tidak kesepian, jangan mengucilkan dan mengkritik mereka karena itu akan membuat mereka yang menderita APD takut dan akan selalu menghindar dengan orang-orang di sekelilingnya.
DAFTAR PUSTAKA

Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius Media
Kaplan & Saddock, 1997, Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi ke-7,jilid2,Binarupa Aksara, Jakarta.
Sri Mulyani Martaniah, MA, Prof. Dr. 1999, Handout Psikologi Abnormal, Yogyakarta.
Sunaryo. Psikologis untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Maslim, Rusdi, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar