GANGGUAN
KEPRIBADIAN
Avoidant
Personality Disorder
Kesehatan
Mental
Disusun
Oleh :
2PA02
Ade
Rezza Julianto (10514193)
Ira
Burairah Semesta (1551446)
Syifa
Ash Shughra Hanadi (1A514621)
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016/2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Kita semua memiliki kehidupan yang
berbeda, gaya berperilaku yang berbeda dan cara berhubungan dengan orangpun
berbeda. Beberapa diantara kita ada yang hidup dengan cara yang rajin ada juga
dengan bermalas malasan, ada yang kuat ada juga yang lemah, ada yang cuek
adapula yang sensitif. Dalam kehidupan sosial sebagian dari kita ada yang hanya
pengikut, sebagiannya lagi yang memimpin.
Beberapa dari kita terlihat kebal
terhadap penolakan dari orang lain, sementara yang lain menghindari insiatif
sosial karena takut dikecewakan. Saat pola perilaku menjadi begitu tidak
fleksibel atau maladaptive sehingga dapat menyebabkan distress personal yang
signifikan atau mengganggu fungsi social dan pekerjaan, maka pola perilaku
tersebut dapat didiagnosis sebagai gangguan kepribadian.
Kaplan dan Saddock mendefinisikan
kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan
perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke
hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat
diramalkan. Kepribadian individu relatif stabil dan memungkinan orang lain untuk
memprediksi pola pikir atau tindakan yang akan diambilnya. Individu
dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya
menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu
yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta menganggu fungsi
kehidupannya sehari-hari.
Dalam
makalah ini kami akan membahas mengenai salah stu gangguan kepribadian yaitu avoidant personality disorder atau biasa
dikenal dengan perilaku menghindar. Orang dengan gangguan kepribadian menghindar menunjukkan kepekaan
yang ekstrim terhadap penolakan, yang dapat menyebabkan penarikan diri dari
kehidupan sosial. Sebenarnya mereka tidak asosial karena menunjukkan keinginan
yang kuat untuk berteman tetapi mereka malu, mereka memerlukan jaminan yang
kuat dan penerimaan tanpa kritik yang tidak lazim.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan avoidant
personality disorder?
2. Bagaimana gejala yang nampak pada seseorang yang
mengalami avoidant
personality disorder?
3. Berikan contoh dari kasus avoidant personality disorder dan cara penanganannya
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah avoidant
personality disorder adalah untuk :
1. Mengetahui apa itu avoidant personality disorder
2. Mengetahui bagaimana gejala yang
dialami seseorang yang mengidap avoidant
personality disorder.
3. Mengetahui cara penanganan avoidant personality disorder.
1.4
Manfaat Penulisan
Makalah ini
bermanfaat baik untuk kami karena dengan disusunnya makalah ini kami menjadi
ingin tahu banyak hal mengenai ilmu-ilmu di dalam psikologi dan menggali
informasi-informasi mengenai gangguan kepribadian
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi
Kaplan dan
Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan
perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke
hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat
diramalkan.
Gangguan
kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman
Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional
tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar),
dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Gangguan
Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara
berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.
Sedangkan
gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat
karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian
besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif
dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan
subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Orang yang mengalami kepribadian
biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan berbeda-beda berupa :
· Ketergantungan yang berlebihan
· Ketakutan yang berlebihan dan
intimitas
· Kesedihan yang mendalam
· Tingkah laku yang eksploitatif
· Kemarahan yang tidak dapat
dikontrol
· Kalau masalah mereka tidak
ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan
Gangguan
kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan
perilaku pada individu. Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang
kepribadian dan berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu
dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa
kanak-kanak.
Diagnosa
terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk
perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang
kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam
memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya,
individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri.
Kemunculan
gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada
penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang
mengalami distres pada umumnya.
Rendahnya
fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut
memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan
erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial.
Beberapa
perilaku tersebut menganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum
individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan
atau menlanjuti hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh
permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal
perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya.
Penderita
gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit
menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah,
banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak
kasar. Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan
gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri,
keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan
gangguan kepribadian.
Gangguan
kepribadian menghindar (Avoidant
Personality Disorder) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu
mengalami hambatan-hambatan sosial, rasa tidak percaya diri, sensitif
mengevaluasi diri dan menghindari interaksi sosial. Individu yang mengalami
gangguan kepribadian ini memiliki perasaan cemas akibat kritik yang dikeluarkan
oleh orang lain sehingga mereka akan bersikap menghindari interaksi dengan
orang lain yang memunculkan adanya kemungkinan dikritik oleh orang lain. Selain
itu , mereka juga sangat takut pada penolakan atau ketidaksutujuan dari orang
lain sehingga mereka enggan untuk menjalin hubungan, kecuali jika mereka merasa
yakin bahwa mereka akan disukai. Mereka bahkan dapat menghindari pekerjaan yang
mengharuskan mereka banyak melakukan kontak interpersonal. Aktivitas atau
pekerjaan yang mereka pilih adalah aktivitas atau pekerjaan yang terhindar dari
interaksi sosial. Mereka yakin diri mereka tidak kompeten dan lebih rendah daripada
orang lain. Mereka enggan untuk mengambil resiko atau mencoba berbagai
aktivitas baru. Sindrom yang muncul meliputi ketakutan untuk tampak bodoh,
dengan adanya keinginan yang kuat untuk penerimaan dan afeksi. Individu yang
mengalami gangguan ini sangat ingin memasuki hubungan sosial atau aktivitas
baru, tetapi mereka tidak menginginkan adanya resiko kecil yang ditimbulkan,
kecuali mereka dijamin dari kekuatan penerimaan kritik.
2.2 Kelompok C
Berdasarkan DSM-IV gangguan kepribadian dibagi kedalam 3 kelompok
besar yaitu:
1.
Kelompok A
Terdiri dari
gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizopital. Individu pada ketiga
gangguan ini menampilkan perilaku yang relatif sama yaitu eksentrik dan aneh
2.
Kelompok B
Terdiri dari
gangguan kepribadian antisosial,boderline,histrionik, dan narsistik. Individu
pada gangguan tersebut manampakkan perilaku yang dramatis atau
berlebih-lebihan,
emosional dan aneh.
3.
Kelompok C
Terdiri dari
gangguan kepribadian avoidant, dependent, dan obsesif-kompulsif. Individu
dengan gangguan kepribadian semacam ini tampak selalu cemas dan ketakutan.
Berdasarkan DSM-IV-TR, kriteria dari avoidant personality disorder
adalah sebagai berikut:
·
Penghindaran
terhadap kontak interpersonal karena takut kritik dan penolakan.
·
Ketidakmampuan
untuk terlibat dengan orang lain kecuali ia merasa yakin akan
disukai atau diterima.
·
Kekakuan dalam hubungan yang intim karena takut dipermalukan atau
dicemooh.
·
Perhatian
yang berlebihan terhadap kritik atau penolakan.
·
Perasaan
tidak mampu.
·
Perasaan
inferior.
·
Keengganan
yang ekstrem untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.
2.3
Kasus
Kasus ini didapatkan dari
teman saya yang mengalami gangguan Avoidant
Personality Disorder yaitu WL usia 20 tahun, relatif hidup terisolasi dan
tidak punya sahabat. Sejak kecil, ia sangat pemalu dan telah menarik diri dari
hubungan dekat dengan orang lain untuk menjaga dari perasaan terluka atau
dikritik. Penyebab ia berprilaku avoidant karena di dalam diri WL ini mempunyai
rasa hipersensitifitas yang tinggi yang membuat WL merasa menarik diri untuk
bergabung dengan lingkungan sekitarnya seperti yang dijelaskan, mengapa WL
menarik diri dari lingkungan karena WL merasa rendah diri yang berlebihan dan
tidak mau menerima kritikan untuk menghindari perasaan terluka, oleh karena itu
WL menarik diri dari lingkungannya karena takut akan kritik yang membuat ia
merasa tidak diterima di lingkungannya.
Dari
contoh kasus di atas avoidant personality
disorder dapat ditangani dengan cara :
1.
Psikoterapi.
Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang
dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan.
Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih
keterampilan sosial yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat
memperberat harga diri pasien yang telah buruk.
2.
Terapi
kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan
pada diri mereka sendiri dan orang lain. Melatih ketegasan adalah bentuk terapi
perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka
secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.
3.
Farmakoterapi.
Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol (tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas
sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan
kepribadian menghindar, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang
menakutkan.
4.
Dukungan
dari lingkungan dan keluarga juga penting seperti temen-teman disekililingnya
seharusnya memahami dan mengamati apa yang terjadi pada WL dan mengapa WL
terlihat menutup diri. Teman-temannya harus lebih sering mengajak WL
berkomunikasi dan menghargai apa yang ia miliki agar WL merasa diterima dan
tidak kesepian. Keluarga WL terutama orang tua jangan menuntut ini itu kepada
WL dan mendukung apapun yang ia sukai dan peduli dengan yang ia rasakan. Jangan
memarahinya saat ia tidak dapat melakukan yang orangtua inginkan, karena akan
memperparah gangguan kepribadiannya. WL akan merasa tidak diterima dan selalu
dikritik. Coba lebih memberinya kasih sayang dan perhatian dengan cara itu WL
akan merasa didukung dan dihargai oleh orangtuanya.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gangguan
kepribadian menghindar (Avoidant Personality
Disorder) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu mengalami
hambatan-hambatan sosial, rasa tidak percaya diri, sensitif mengevaluasi diri
dan menghindari interaksi sosial. Individu yang mengalami gangguan kepribadian
ini memiliki perasaan cemas akibat kritik yang dikeluarkan oleh orang lain
sehingga mereka akan bersikap menghindari interaksi dengan orang lain yang
memunculkan adanya kemungkinan dikritik oleh orang lain.
Berdasarkan DSM-IV gangguan kepribadian dibagi kedalam 3
kelompok besar dan avoidant personality disorder terdapat
pada kelompok C. Individu dengan gangguan kepribadian semacam ini tampak
selalu cemas dan ketakutan. Avoidant personality disorder dapat ditangani dengan cara
psikoterapi, terapi kelompok, farmako terapi dan dukungan dari lingkungan dan
keluarga.
3.2 Saran
Kita
harus peka terhadap lingkungan disekitar kita, memahami orang lain dan
mendukung teman-teman kita. Apabila memiliki teman dengan ciri-ciri yang sama
dengan avoidant personality disorder
cobalah selalu mengajaknya berkomunikasi agar ia tidak menutup diri.
Bertemanlah dengan mereka agar mereka tidak kesepian, jangan mengucilkan dan
mengkritik mereka karena itu akan membuat mereka yang menderita APD takut dan
akan selalu menghindar dengan orang-orang di sekelilingnya.
DAFTAR PUSTAKA
Semiun,
Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta:
Kanisius Media
Kaplan & Saddock,
1997, Sinopsis Psikiatri, Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi ke-7,jilid2,Binarupa Aksara, Jakarta.
Sri Mulyani Martaniah,
MA, Prof. Dr. 1999, Handout Psikologi
Abnormal, Yogyakarta.
Sunaryo. Psikologis untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Maslim, Rusdi, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III,
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar